--> Skip to main content

Manusia Pada Dasarnya Adalah Makhluk Yang Egois

Manusia Pada Dasarnya Adalah Makhluk Yang Egois

Temanngobrol.online - Setiap kali kita berinteraksi dengan orang lain tentu terdapat banyak macam tipe seseorang yang ada di sekitar kita, karakter manusia serta dari sisi kepribadiannya masing-masing. Saat berinteraksi, terkadang sering terjadi salah paham yang dapat mengakibatkan salah satu diantara pihak tertentu merasa tersakiti. Jelas efeknya akan menyebabkan perasaan kecewa, jengkel hingga marah sekalipun. Hal ini mungkin dan sering terjadi disebabkan oleh kata-kata yang di ucapkan, tulisan, ataupun tindakan yang berlebihan sehingga diantara pihak tertentu merasa tersinggung.

Ketika seseorang merasa kecewa atau terluka, bisa saja saat itu juga bisa memaafkan orang yang menyakitinya dengan segera, tetapi belum tentu orang tersebut bisa melupakan secara langsung atas kejadiannya itu. Seperti para pepatah mengatakan "Berbuat baik seperti menuangkan hujan selama musim kemarau, kesegarannya bisa dirasakan oleh semua orang. Tapi melakukan hal-hal buruk seperti menempelkan paku ke kayu, jika paku telah dilepas tetapi lubangnya akan selalu ada".

Manusia pada dasarnya merupakan makhluk yang egois. Hal ini telah dijelaskan oleh beberapa ilmu pengetahuan diantaranya:

1. Menurut Ilmu Perkembangan

Keegoisan sudah ada sejak masih balita yaitu egosentrisme. Egosentrisme adalah perilaku anak yang tidak bisa menempatkan dirinya pada posisi orang lain. Misalnya: Ingin di perhatikan, pendapatnya harus diterima, mengharapkan orang lain untuk memahami dirinya tetapi dirinya sendiri tidak mau memahami orang lain.

2. Menurut Ilmu Antropologi

Setiap manusia itu bersifat antroposentris, artinya ingin melakukan hal apapun yang didasarkan pada kepentingan pribadinya. Sebagai contoh: Orang melakukan hal-hal karena mereka ingin memenuhi kebutuhan dan memuaskan diri dengan apa yang mereka suka. Dia berhubungan dengan orang lain untuk mewujudkan apa yang menjadi keinginannya. Manusia adalah makhluk sosial karena tidak dapat memenuhi kebutuhannya sendiri, tetapi membutuhkan orang lain.

3. Menurut Teori Psikoanalitik Sigmund Freud

Kepribadian manusia terdiri dari tiga elemen. Ketiga elemen dari Kepribadian tersebut dikenal sebagai ID, EGO dan SUPEREGO sehingga ketiga elemen tersebut berkerja sama untuk menciptakan perilaku manusia yang lebih kompleks.
  • ID = Merupakan suatu komponen kepribadian seseorang yang sudah ada sejak lahir. Id merupakan suatu dorongan dari kesenangan seseorang yang paling liar seperti Makan, Minum dan Sex. Jika keinginan atau kebutuhan tersebut tidak terpenuhi (tidak puas) maka hasilnya adalah kecemasan atau tegang.
  • EGO = Merupakan komponen kepribadian yang bertanggung jawab untuk mengatur realitas. Menurut Freud, ego berkembang dari id dan memastikan bahwa id dapat ditentukan dengan cara yang dapat diterima di dunia nyata. Ego berfungsi dengan baik dalam pikiran sadar, tidak sadar, dan tidak sadar. Ego bekerja berdasarkan realitas, yang berupaya memuaskan id dengan cara yang menantang dan sesuai secara sosial. Sifat Ego membantu membuat percakapan ID realistis dan diterima dalam kehidupan nyata.
  • SUPEREGO = Adalah aspek kepribadian yang memegang semua standar moral dan cita-cita internalisasi yang kita dapatkan dari orang tua dan masyarakat - kita merasa benar dan salah. Superego memberikan pedoman untuk membuat penilaian. Pedoman dan penilaian ada di Superego.

Keegoisan Positif

  • Selalu bersemangat untuk melindungi orang-orang penting dalam kehidupan kita demi keselamatannya.
  • Suka mengatur untuk hal kebaikan.
  • Tidak suka melihat hal-hal yang buruk (tidak baik).
  • Selalu berusaha dan tidak pernah menyerah walaupun sering gagal.
  • Selalu membantah sesuatu hal yang buruk demi tidak terjadinya hal-hal yang berdampak buruk nantinya.

Keegoisan Negatif

  • Merasa diri sendiri selalu benar dan hebat dari segi hal apapun.
  • Suka membantah jika di kasih nasihat yang baik.
  • Gaya hidup yang bebas/membuat aturan sendiri sehingga orang lain tidak boleh untuk melarangnya.
  • Memuaskan diri sendiri dengan mengorbankan orang lain.
  • Tidak peduli orang-orang yang ada di lingkungan sekitarnya.

Pada dasarnya sifat egois yang positif akan berdampak pada keselamatan, kesuksesan, kasih sayang, kepedulian terhadap orang lain, dan kepekaan terhadap lingkungan. Sedangkan sifat egois yang negatif akan berdampak pada bencana, permusuhan, pertengkaran hingga kejahatan, dan pasti akhirnya akan ditinggalkan oleh orang-orang terdekat kita dan lingkungan.

Sebagai manusia yang memiliki kebebasan, kita memiliki hak untuk memilih. Apakah Anda ingin dikendalikan oleh ego Anda? Atau akankah itu pengontrol ego kita sendiri? Tentunya semuanya akan memiliki dampak terpisah yang akan kita rasakan. Jika Anda bisa menjadi raja ego Anda sendiri, mengapa Anda harus menjadi budak? Pilihan ada di tangan kita.
Comment Policy: Silahkan kirimkan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan pada halaman ini. Komentar yang berisi link aktif tidak akan ditampilkan sebelum disetujui oleh Admin.
Buka Komentar
Tutup Komentar